Pendidikan Kristen

Pembangunan Kerohanian Anak: Tugas Sekolah atau Gereja?

oleh: Sutjipto Subeno.

Seorang hamba Tuhan pernah berkata kepada saya: “Tugas kerohanian bukanlah tugas sekolah. Itu tugas gereja. Sekolah tujuannya mencerdaskan anak untuk kepentingan bangsa; Gereja bertugas membina kerohanian dan kehidupan seseorang (anak maupun dewasa). Maka tidak tepat jika Sekolah diberi tugas, apalagi bertanggung jawab terhadap kerohanian siswa-siswanya.”

Benarkah pernyataan di atas? Kita perlu sangat kritis berhadapan dengan opini-opini tentang pendidikan modern yang berusaha untuk menggeser esensi pendidikan dan khususnya tanggung jawab sekolah di dalam pembentukan kerohanian seseorang anak yang dipercayakan kepadanya. Menjadikan seorang pintar bukanlah urusan manusia, bahkan bukan urusan sekolah, karena inteligensia seseorang adalah bawaan seseorang sejak lahir. Seorang yang dilahirkan dengan IQ 80 tidak mungkin bisa diajar di sekolah lalu IQ nya berubah menjadi 150. Tingkat kecerdasan seseorang adalah bawaan yang merupakan ciri orang tersebut. Seorang genius tanpa kesulitan dia akan melahap semua pengetahuan yang begitu sulit dimengerti dan ditangkap oleh seseorang yang idiot. Tidak ada seseorang yang lahir bisa memilih menjadi genius atau idiot. Itu bukan hasil pendidikan sekolah. Sekolah hanya memfasilitasi orang-orang dengan inteligensianya masing-masing. Tetapi masalah menjadi rumit ketika berbicara tentang aspek kerohanian. Ada beberapa hal yang perlu kita mengerti berkaitan dengan peranan Sekolah dan Kerohanian siswa.

1. Spiritualitas: Elemen Utama Output Pendidikan

Kerohanian seringkali diabaikan oleh Sekolah karena sangat rumit dan sangat bermasalah untuk digarap oleh sekolah. Kerohanian berkenaan dengan iman seseorang, dan itu seringkali menjadikan sekolah risih bersentuhan dengannya. Sekolah berusaha melarikan diri dan melepaskan tanggung jawab pembentukan ini, karena nantinya disitu ia akan melihat anak-anak yang mereka didik akan tumbuh menjadi orang dewasa seperti apa.

Ketika aspek kerohanian menjadi elemen dan variabel pendidikan utama, maka karakter pendidikan akan berubah signifikan. Anak yang lulus akan dilihat apakah akan menjadi orang dewasa yang betul-betul berguna bagi bangsa, mencintai negara dan mencintai sesama manusia, sungguh-sungguh hidup jujur, berintegritas, memiliki kesucian moral yang sangat tinggi, khususnya di aspek seksual dan kehidupan pribadinya, dan memiliki hati yang sungguh-sungguh beribadah kepada Tuhan. Inilah variabel yang harus dilihat sebagai buah pendidikan. Maka kerohanian seseorang haruslah merupakan aspek penting yang diperhatikan oleh sekolah.

Apa jadinya jika sekolah mendidik anak-anak yang akhirnya keluar dengan penuh kebencian, sifat sirik dan mau merugikan atau menghancurkan orang lain demi kepentingannya. Tidak suka melihat orang lain lebih baik atau lebih sukses dari dirinya dan dengan segala daya berusaha untuk menjatuhkan atau bahkan mencelakakan orang tersebut. Apa jadinya jika output pendidikan kita adalah orang-orang yang hidup moralnya begitu bejat, menipu, korupsi, selingkuh, bahkan menjadi produsen dan pengedar narkoba yang merusak berpuluh ribu manusia. Mungkin mereka adalah orang-orang yang brilliant, dididik dengan ilmu yang banyak dan memang berintelegensia tinggi, namun itu tidak menjamin spiritualitas mereka beres dan hidup mereka suci. Maka, perlu dipikirkan secara serius output pendidikan seperti apa yang seharusnya dan sewajarnya merupakan hasil dari pendidikan sekolah.

Kita perlu mensyukuri adanya niat pemerintah untuk membangun pendidikan yang patut dengan membuat Kurikulum 2013 (K13), dimana aspek Spiritual, Karakter, Pengetahuan dan Ketrampilan begitu serius mau dimasukkan ke dalam elemen asses pendidikan dan akan menjadi tolok ukur output pendidikan. Namun, kita perlu menyadari bahwa benar kata Menteri Anies Baswedan, bahwa mempersiapkan K13 bukanlah urusan mudah. Diperlukan agregat pendidikan yang sangat rumit untuk bagaimana seorang guru bisa melihat perkembangan, membangun kerohanian dan karakter anak didiknya, mendidik pengetahuan dan ketrampilannya, jika kemampuan dan kerohanian guru itu sendiri tidak memadai. Kalau gurunya suka korupsi, bolos dan malas mengajar, tetapi mau dibayar, suka menekan murid agar memberikan berbagai hadiah, bagaimana mendidik kerohanian muridnya untuk bisa hidup suci, berintegritas, mencintai Tuhan, dan sungguh-sungguh jujur di setiap aspek kehidupannya. Maka perlu perombakan radikal di dalam seluruh sistim pendidikan nasional, mulai dari para pemimpin di Departemen, di semua jajaran pemerintah daerah, para pejabat pendidikan, para kepala sekolah, para guru, barulah murid-murid bisa dididik seperti yang diharap oleh K13. Selain itu, tentu tidak bisa guru membangun kerohanian murid dengan baik jika satu kelas berisi 40 murid dengan satu guru. Maka akibatnya, yang terjadi adalah sebuah idealisme yang kosong, dan muncullah berbagai penipuan penilaian karena guru terpaksa melakukan penilaian tanpa menilai dengan benar. Semua hasil adalah hasil bohong, karena memang tidak mungkin dibuat jujur. Kembali implikasi K13 akan bermasalah. Ini yang telah dipikirkan di dalam pendidikan LOGOS yang menggarap SMIS Concept (Spirituality, Mentality, Intellectuality and Skills). Elemen ini digarap dengan intense melalui seleksi guru yang ketat, dedikasi, kerohanian, karakter guru menjadi dasar seleksi penerimaan guru. Setiap guru tidak boleh memiliki pekerjaan sampingan yang membuat dia akan kehilangan integritasnya. Setiap guru membimbing tidak lebih dari 12 siswa sehingga perhatian, bimbingan, doa dan dorongan bisa berjalan dengan baik dan efektif.

2. Spiritualitas: Pembentukan Kehidupan Dewasa

Istilah “pedagogi” atau ilmu pendidikan bertujuan untuk pembentukan kehidupan menjadi dewasa. Saat ini banyak definisi pendidikan begitu disempitkan hanya di aspek intelektual saja, padahal kehidupan bukanlah urusan pengetahuan. Sejak Howard Gardner mendobrak dunia pendidikan dengan bukunya Multiple Intelligences, banyak orang mulai sadar pentingnya bukan hanya IQ (intelligent quotient), tetapi juga berbagai macam quotients lainnya seperti juga aspek emosi, karakter, relasi, kinetis, dll., yang membuat seseorang bisa sukses dalam kehidupan. Orang yang sangat pandai, tetapi karakternya buruk sekali tidak bisa disebut sebagai orang yang dewasa. Kedewasaan seseorang bukan karena dia memiliki banyak sekali pengetahuan, tetapi kedewasaan harus dimulai dari kerohanian yang dewasa. Pengenalan akan Allah akan menjadi penentu pengenalan akan diri (John Calvin dalam bukunya The Institutes of Christian Religion) dan dengan pengenalan diri yang baik, ia mempunyai arah dan titik tolak untuk pembentukan karakter diri menuju kedewasaan.

Dengan kesadaran bahwa sekolah harus membentuk siswa menjadi orang yang dewasa, maka tentulah sekolah tidak bisa melepaskan diri dari tanggung jawab pembentukan kerohanian. Pembentukan manusia seutuhnya merupakan tugas sekolah, sehingga tidak ada dualisme sekolah dan gereja. Sekolah yang baik tentu akan sangat serius memperhatikan pertumbuhan kepribadian siswa-siswanya, bukan hanya masalah ilmu pengetahuan, tetapi juga karakter disiplin, kejujuran, kesucian moralnya, dan juga semangat juangnya. Namun, di balik itu semua, tentu bagaimana kehidupan kerohaniannya harus menjadi landasan dari kehidupan relasionalnya. Bagaimana ia bisa mengasihi teman-temannya, mencintai Tuhannya, dan memiliki motivasi belajar untuk bisa menjadi berkat bagi dunianya. Namun, kita semua menyadari tidak banyak sekolah-sekolah yang sungguh-sungguh menggarap karakter siswa-siswanya dengan baik; dan jauh lebih langka lagi kita menemukan sekolah yang sangat memperhatikan kehidupan kerohanian siswanya yang betul-betul menjadikan mereka hidup saleh, suci, dan mengasihi orang lain. Seringkali kerohanian hanya digambarkan sebagai berapa banyak berdoa, berapa banyak baca kitab suci, tetapi tidak terlihat sama sekali di dalam kehidupan moral (cara berkata, cara bergaul, sikap hidup) dan juga di dalam mengasihi dan mau menolong sesamanya, baik di kelas terhadap teman, guru dll., maupun di dalam kehidupan sehari-harinya. Hal ini yang terus dipikirkan dan digumulkan oleh Sekolah Logos.

Di sekolah Logos, semangat persaingan dihindari sebisa mungkin, sehingga setiap anak tidak perlu melihat temannya sebagai rival atau musuh (kompetitor) di dalam studinya dan di dalam kepribadiannya, tetapi lebih sebagai rekan seperjuangan yang sama-sama menggarap panggilan Tuhan. Setiap orang berbeda-beda dan unik, sehingga tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain, karena orang lain bukan diri, dan diri bukan orang lain. Kita bisa banyak belajar dari teman kita, dari guru kita, dari orang-orang di sekeliling kita, namun kita tidak boleh menjadikan mereka kompetitor kita, atau orang-orang yang kita iri atau sirik kepadanya. Mungkin banyak orang berpikir bahwa semangat kompetisi menjadi cara terbaik untuk memacu motivasi belajar seseorang. Tetapi jika kita perhatikan, di belakang semangat kompetisi yang kita bangun, kita sebenarnya sedang membangun semangat kesombongan personal, satu sifat rohani yang sangat buruk dan dibenci oleh Tuhan. Billy Graham melihat kesombongan sebagai salah satu deadly sin (dosa yang mematikan). Kesombongan adalah semangat membuat kita tidak bisa melihat diri kita dan sesama kita dengan benar. Tuhan ingin kita memiliki sifat rendah hati, tetapi pendidikan justru mendorong semangat kesombongan. Disini kita melihat pentingnya kerohanian membentuk karakter dan pola pendidikan yang benar. Kita peru mendorong setiap siswa memiliki kesadaran bahwa di hadapan Tuhan kita adalah orang-orang berdosa, yang sudah mendapat anugerah pengampunan dan keselamatan di dalam pengorbanan Tuhan Yesus Kristus. Maka, kita harus berjuang sebaik mungkin dengan apa yang Tuhan telah berikan kepada kita untuk menggenapkan kehendak dan rencana-Nya. Kita bukan belajar dan bekerja untuk mengejar prestasi dan kesombongan diri. Untuk itu, sekolah perlu mendorong motivasi yang benar, motivasi rohani kepada setiap siswa didiknya.

3. Spiritualitas: Pusat Proses Pembelajaran

Oleh karena itu, hanya ada dua motivasi pembelajaran yang kebanyakan bisa kita temukan di dalam kehidupan seseorang, yaitu: 1) ambisi diri; 2) karena dan demi Tuhan. Sebagian besar orang dilatih dan didorong belajar dengan motivasi kehebatan dan kepentingan dirinya sendiri. Ia dipacu dengan semangat persaingan, keinginan sukses di dalam kehidupan yang dimengerti sebagai kemampuan untuk bisa hidup nyaman dengan mendapatkan apa yang ia inginkan; dan juga demi sebuah gengsi atau harkat nama baik pribadi. Tetapi, sebenarnya hal itu tidak benar. Dampak persaingan sangat keji. Bahkan ketika seseorang sudah dikatakan sangat rohani, menjadi rohaniawan, berdoa banyak, membaca kitab suci berulang kali, bersifat seolah begitu rohani dan saleh, tetapi menjadi begitu tidak senang ketika ada orang lain yang lebih baik dari dirinya, ada rohaniawan lain yang di dekatnya, apalagi yang sebelumnya adalah bawahannya, ternyata terbukti lebih bertalenta, lebih baik dalam pelayanannya, lebih disukai oleh jemaat, daripada dirinya. Ia menjadi iri hati dan mulai berusaha untuk menyingkirkannya. Ia mulai menekan, menganiaya, kalau perlu memfitnah sampai orang tersebut akan menjauh atau jatuh dan tidak lagi menjadi ancaman bagi dirinya. Kerohanian apapun tidak menolong jika semangat kompetisi sudah menjadi bagian jiwa seseorang. Dan ini seringkali ditanam dari mulai waktu studi. Bagaimana bisa berjiwa besar dan agung, sehingga kita bisa melihat orang lain lebih baik dari kita dan mendorong dia naik bahkan melampaui diri kita dan memimpin kita, karena memang dia lebih berkapasitas dari kita. Sifat dosa manusia seringkali tidak memperkenankan hal ini, karena sifat kesombongan kita ingin menonjol dan ingin menjadi yang utama dan di atas. Kita mau memimpin dan tidak suka dipimpin. Disini kita membutuhkan format lain di dalam membentuk motivasi belajar yang baik.

Alkitab mengajar bahwa semua yang kita lakukan haruslah kita lakukan seperti untuk Tuhan, bukan untuk manusia (Kolose 3:23). Inilah motivasi yang paling stabil dan baik di dalam memacu semangat belajar dan semangat kerja seseorang. Kita tidak membanding diri dengan orang lain, tetapi kita mau belajar dan bekerja yang sebaik mungkin karena Tuhan yang memperhatikan kita, telah memanggil kita dan menarik kita masuk ke dalam Kerajaan-Nya untuk mengerjakan pekerjaan yang sudah Ia siapkan bagi kita (Efesus 2:10). Ketika seorang siswa dibangun dengan semangat kerohanian yang benar, ia bukan menjadi orang-orang yang mementingkan diri sendiri. Inilah bagian penting di dalam pembentukan kerohanian sejati. Kerohanian yang berujung pada egoisme, kesenangan, keuntungan diri, dan semua hanya demi kita yang bisa masuk surga tanpa peduli orang lain masuk neraka adalah kerohanian palsu. Rohani yang membuat kita menjadi enak dan orang lain sengsara adalah kerohanian yang bukan dari Tuhan Allah yang sejati. Oleh karena itu, sangat penting kita melihat pembentukan kerohanian yang sejati di dalam pembentukan manusia. Perlu ada kerohanian sejati untuk menjadi manusia sejati. Disini kita melihat bahwa sekolah tidak bisa mengabaikan hal ini.

Pembentukan kerohanian seperti ini, merupakan proses panjang di dalam kehidupan seorang siswa, yang mana waktu terbanyak dari proses pembentukan itu dilakukan di sekolah. Lebih dari 60% waktu pembentukan seorang siswa (di luar jam tidurnya), terjadi di sekolah, baik dalam pembentukan pembelajaran, juga dengan interaksinya bersama rekan-rekan di sekolah. Maka, sekolah harus secara serius memperhatikan proses pembentukan kerohanian siswa, baik melalui kurikulum formal maupun kegiatan ektra kurikulernya. Ini bukan cuma tugas gereja yang mungkin dihadiri kurang dari dua jam setiap minggu (di Sekolah Minggu).

Kerohanian seseorang siswa akan menjadi pusat atau inti (core) dari seluruh proses pembelajaran lainnya. Kerohanian siswa akan menjadi dasar dari pembentukan karakternya. Bagaimana sikapnya melihat setiap pelajaran yang diberikan kepadanya. Bagaimana semangat perjuangannya, bagaimana karakter sosial di dalam pembelajaran itu. Semua proses pembelajaran ini akan membentuk dirinya dan membentuk seluruh kepribadiannya untuk menjadi seseorang yang bisa dipakai Tuhan untuk memuliakan Tuhan dan menjadi berkat bagi orang lain, bagi bangsa dan negara. Semakin banyak orang oportunis hasil proses pembentukan sekolah, maka makin celaka orang lain, makin rusak bangsa dan negara, dan makin hancur masa depan bangsa dan gereja. Untuk ini sekolah-sekolah Kristen harus memperhatikan dan menggarap serius proses pembelajaran yang “spiritual based” (berlandaskan kepada kerohanian sejati) bagi setiap siswanya. Ini membutuhkan suatu kurikulum yang baik, yang  mendidik siswa takut akan Tuhan, mencintai Tuhan, melihat seluruh alam ciptaan dan dirinya sebagai karya Tuhan yang harus dihargai, tidak boleh dirusak dan harus kembali untuk kemuliaan Tuhan.

4. Spiritualitas: Pengikat dan Pembatas Ilmu

Kerohanian membuat anak dan juga manusia akan bisa mengerti apa tujuan dan fungsi pembelajaran yang sedang dilakukannya. Seluruh makna ilmu tidak bisa lepas dari natur manusia sebagai peta teladan Allah. Oleh karena itu, spiritualitas dan pengenalan akan Allah dan penciptaan, menjadi dasar dari seluruh motivasi dan pengertian ilmu pengetahuan. Dengan adanya dasar pendidikan atheistik-evolusionistik, maka pendidikan kehilangan dasar dan pengertian akan seluruh alam ciptaan ini. Banyak anak sekolah tidak pernah mengerti mengapa dia belajar matematika, biologi, akuntansi, musik dst. Bagi banyak siswa, sekolah adalah kewajiban yang sangat menyebalkan. Ilmu pengetahuan adalah hal yang harus mengisi otak mereka, dan makin banyak pengetahuan mereka menjadi makin hebat. Akibatnya, banyak orang berlomba-lomba punya banyak ilmu, banyak ketrampilan, lalu berpikir itu untuk kehebatan diri, tanpa mengerti apa hakekat dari setiap ilmu yang dipelajari.

Pada intinya, manusia bukan superman. Manusia bukan sekedar hidup untuk ilmu. Ilmu hanya sarana untuk mencapai sesuatu. Bagi orang dunia, ilmu adalah sarana untuk mendapat pekerjaan yang baik dan menjadi kaya. Maka jangan heran semua sekolah berusaha memacu murid untuk bisa membuat mereka bisa kaya. Padahal kalau sekedar ingin menjadi kaya, justru tidak perlu banyak ilmu dan tidak perlu sekolah tinggi. Maka disini terjadi konflik pengertian yang bersifat sangat kontradiksi. Kalau siswa didorong menjadi kaya, mereka tidak merasa perlu untuk belajar banyak, karena menjadi seorang ahli riset atau profesor yang berilmu tinggi justru tidak bisa membuat mereka kaya. Para pedagang yang bermodal dan berketrampilan dagang justru menjadi lebih kaya dari para ilmuwan. Lalu, jika demikian mengapa seseorang harus belajar?

Pendalaman ilmu sangat dibutuhkan manusia, karena manusia tidak makan uang. Kita bisa punya uang berjuta rupiah, tetapi kalau tidak ada beras, manusia tidak bisa makan lembaran rupiahnya. Manusia bisa punya miliar rupiah, tetapi kalau tidak ada mobil maka mereka semua harus jalan kaki. Manusia bisa punya triliun rupiah, tetapi kalau tidak ada semen, tidak ada bata, tidak ada kaca, tidak ada aluminium, tidak ada listrik, maka mereka harus tinggal di pondok bambu dan jerami. Semua ini adalah hasil para ilmuwan yang bersedia bekerja keras demi untuk menjadi berkat bagi banyak orang. Banyak orang akan sakit dan mati jika tidak ada dokter dan ahli kimia yang mau melakukan riset untuk mencari obat penyembuh. Maka, manusia bukan butuh kaya, manusia butuh hidup. Bahkan bukan sekedar hidup di dunia sekuler, tetapi bagaimana hidup di hadapan Tuhan, sehingga hidupnya bisa sesuai dengan kehendak Tuhan. Maka, pembelajaran ilmu tidak bisa dilepaskan dari tujuan hidup manusia dan semua esensi realita yang manusia hidupi. Kita belajar, mendalami banyak ilmu yang sesuai dengan panggilan Tuhan atas diri kita, agar kita bisa menggunakan semua ilmu itu untuk menjadi berkat bagi banyak orang. Ketika kita menjadi berkat bagi banyak orang, Tuhan akan memelihara kita melalui orang-orang tersebut. Mungkin kita tidak sekaya pedagang, tetapi kita bisa hidup sejahtera. Dan kalaupun kita dipanggil menjadi pedagang yang menggarap, mendistribusikan, menjual berbagai produk, maka itupun di dalam rangka kita menjadi saluran berkat dari produsen kepada konsumen, bukan anjang bagaimana menekan produsen dan menggaruk konsumen untuk keuntungan diri sendiri. Semua ini bermula dari sifat rohani yang ada pada orang itu. Sekalipun ia orang yang mengaku beragama, maka seseorang bisa tetap berbuat tidak mirip dan tidak bersifat rohani yang sejati. Maka sekolah perlu mengajarkan, membangun, mendidik, membentuk setiap siswa untuk bisa memiliki kerohanian yang sejati. Dibutuhkan guru-guru yang mau mendoakan setiap siswa, membimbing mereka dengan sabar, dan mengajak mereka melihat satu kehidupan yang agung melalui studi ilmu pengetahuan yang mereka sedang kerjakan. Disini integrasi antara iman dan ilmu digarap secara serius oleh sekolah Logos.

Sekolah Logos berusaha untuk mengajak setiap siswa melihat bahwa kita mempelajari setiap bidang ilmu tidak lepas dari Tuhan yang mencipta kita, sesama, dan alam semesta ini. Maka, Tuhanlah yang memungkinkan adanya studi matematika, fisika, kimia, biologi, ekonomi, akuntansi, sosial, seni dll. Semua ilmu yang kita pelajari berasal dari Tuhan dan Tuhan memiliki tujuan dan maksud di dalam setiap seni tersebut.

5. Spiritualitas Kristen (Reformed) Menggarap Kualitas Hidup

Pembelajaran bukan bertujuan untuk kepentingan dan kebesaran diri seperti dipikirkan oleh kebanyakan manusia. Tetapi dari sudut dan jiwa kerohanian yang benar, kita mengerti bahwa pembelajaran memiliki tujuan yang jauh lebih agung dan lebih luas dari sekedar semangat pembangunan dan aktualisasi diri. Adalah salah jika kita beranggapan dengan banyaknya ilmu pengetahuan, dengan nilai-nilai matematika, fisika, kimia, dst., yang begitu luar biasa, menjadi seorang yang lulus dengan kelulusan cum-laude adalah bukti dari kualitas hidup seseorang. Kekuatan intelektual hanyalah salah satu bagian dari kualitas hidup, namun bukan penentu utama kualitas hidup.

Seperti telah terungkap di atas, bahwa kualitas hidup seseorang ditentukan oleh empat elemen hidup yang tidak bisa ditawar, yaitu urutan aspek-aspek: SMIS (Spiritually, Mentally, Intellectually and Skills), yaitu kedewasaan secara rohani, karakter dan mental, kemampuan dan kekuatan intelektual, serta ketrampilan hidup. Maka kekuatan di aspek pengetahuan (intelektual) hanya elemen ketiga di dalam kualitas hidup seseorang. Spiritualitas yang sejati merupakan dasar utama yang memberikan pengertian dan wawasan terhadap ketiga aspek lainnya. Spiritualitas sejati akan membuat seseorang terdorong menggarap kualitas hidupnya secara utuh, karena spiritualitas itu merupakan dasar pengenalan bagaimana Allah ingin ia menjadi, bukan ia tahu. Pengertian bagaimana manusia dicipta begitu unik dan istimewa, yaitu sebagai mahkota ciptaan yang diberi tugas mengelola seluruh dunia ciptaan Tuhan ini, menjadi dasar bagaimana ia harus memperlengkapi diri dan membentuk diri demi untuk menjalankan kehendak Tuhan itu.

Reformed Spirituality (Kerohanian berdasarkan Teologi Reformed) yang mau kembali kepada Alkitab melihat bahwa seluruh hidup kerohanian bukan diukur sekedar dari apa yang diri bisa dapatkan, tetapi apa yang diri sudah jadikan dan genapkan di hadapan Allah. Tuhan ingin kita menjadi orang-orang yang hidupnya berkarya, berbuah lebat. Seluruh perlengkapan yang digarap dalam kehidupan kita, bagaimana kita berdoa, bagaimana kita membaca Alkitab, membentuk karakter dan melatih mentalitas Kristen, belajar berbagai pengetahuan dan ketrampilan hidup, adalah agar kita bisa hidup dengan benar dan menghasilkan banyak berkat bagi banyak orang. Tuhan tidak ingin kita sekedar menjadi sebuah pohon yang begitu gemuk, begitu rindang dan berdaun lebat dan segar, tetapi tidak berbuah. Tuhan mengutuk pohon ara itu karena pohon itu tidak berbuah (Mat 21:19).

Disini sekolah Logos mencoba mengaplikasikan panggilan kerohanian Reformed dengan segenap upaya. Setiap anak dilatih untuk bisa melihat bagaimana setiap ilmu dari sudut pandang Tuhan dan firman, mengkritisi berbagai opini manusia dan dunia sekuler, serta memberikan alternatif yang lebih baik kepada dunia, untuk menunjukkan bahwa apa yang kita kerjakan di dalam Tuhan berdasarkan kebenaran Tuhan akan membawa manusia kepada kualitas hidup yang lebih baik. Di dalam tingkat lanjut siswa-siswa Logos diajak untuk berpikir kritis di dalam tingkat apologia untuk menggarap mandat budaya, sehingga bisa menjadi berkat bagi dunianya. Dengan itu, siswa bisa menggarap kualitas hidupnya ketika ia memasuki dunia universitas dan dunia kerjanya kelak. Tentu bukan hal yang mudah menggarap panggilan mandat budaya Kristen ini. Dibutuhkan guru-guru yang berintegritas dan memiliki pemikiran yang terintegrasi untuk mengarahkan dan membimbing anak-anak didiknya, bukan sekedar memiliki ketrampilan berbuat sesuatu, tetapi ketrampilan membangun kualitas hidup. Tidak banyak dorongan dilakukan sekolah Kristen untuk mengkritisi pengetahuan yang dibangun dengan paradigma sekuler dan melihat ulang dengan paradigma Kristen yang benar. Memang ini bukan hal yang mudah, tetapi merupakan suatu keharusan yang diperjuangkan. Disini kita melihat bagaimana Tuhan menyertai dan memberikan kekuatan kepada anak-anak-Nya yang betul-betul mau bersandar kepada-Nya. Allah adalah Allah yang berdaulat dan Ia menugaskan anak-anak-Nya untuk menggenapkan kehendak dan rencana-Nya. Dengan demikian setiap siswa yang menyadari agungnya panggilan Allah dan juga berapa bernilai dirinya ketika Tuhan mau memakainya di dalam Kerajaan-Nya, memberikan nilai dan dasar kualitas hidup yang ia harus bangun.

Spiritualitas jelas bukan hanya tugas Gereja, walaupun jelas Gereja bertugas utama untuk itu, namun Sekolah juga harus secara serius memikirkan, merancang dan menggarap spiritualitas siswa-siswa didiknya untuk bisa menjadi seorang manusia yang utuh, dewasa, dan berbuah lebat hidupnya, yang pada akhirnya memuliakan Allah Tritunggal. Soli Deo Gloria.