Category Archives: SMIS

QA Pendidikan (001)

Topik: Kurikulum

Jika Bapak membahas banyak tentang konsep disiplin dalam pendidikan, bagaimana pendapat Bapak tentang kurikulum pendidikan di Indonesia dan bagaimana seharusnya menyusun kurikulum yang baik? Contoh kurikulum pendidikan teknik. Saya punya pengalaman belajar di luar negeri dan menurut saya kurikulum di Indonesia sangat ambisius, bagaimana pendapat Bapak?

Jawab:

Kurikulum adalah program pendidikan, yang merupakan aplikasi dari apa yang merupakan tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan ditetapkan dari apa yang dihayati sebagai esensi atau hakekat pendidikan itu sendiri. Jadi kalau hakekat pendidikan itu adalah kepandaian, dan diyakini bahwa orang hanya butuh dididik menjadi pandai untuk bisa mendapatkan kehidupannya, maka tujuan pendidikannya adalah bagaimana membuat siswa memiliki banyak pengetahuan, dilatih intelektualnya dan diperluas pengetahuannya. Maka kurikulumnya akan mengaplikasikan hal ini, dimana anak akan dijejali dengan segala macam pengetahuan, dan dianggap hebat kalau ia tahu bermacam-macam pengetahuan. Aspek karakter dan kerohanian tidak terlalu diperhatikan (bukan berarti tidak ada). Hal ini akan terlihat dari bagaimana assessment (penilaian) dan kriteria sukses ditampilkan di dalam raport sekolah. Ini yang sekarang terjadi di dalam ide Cara Belajar Siswa Aktif. Yang diharap anak bisa mengakses internet, bisa dapat banyak pengetahuan, serakah dengan semua ilmu, dan orang tua akan menjejali dengan berbagai kursus, kemampuan berbagai bahasa dll. Kurikulum K13 mencoba untuk merubah paradigma pendidikan ini, dengan menggarap seperti yang diinginkan oleh Sekolah LOGOS, yaitu SMIS (Spiritual, Mental, Intelectual, Skills). Ini adalah kurikulum yang didasarkan pada hakekat pendidikan yang meyakini bahwa pendidikan adalah untuk membentuk kualitas hidup secara utuh, yang meliput keempat aspek kehidupan, yaitu kerohanian (pengenalan akan Allah), karakter dan mentalitas yang kokoh, intelektualitas yang terasah dan berfungsi penuh, serta ketrampilan hidup dan mengaplikasi ilmu untuk menjadi berkat bagi sesama, bangsa, negara, dan juga gereja. Tetapi untuk menggarap hal itu sangat sulit untuk pembentukan pendidikan nasional yang masih sangat berantakan dan belum bisa ditata dari pusat hingga ke daerah. Perlu waktu sangat panjang untuk membenahi semua pelaksanaan pendidikan nasional yang penuh kekotoran dan kasus untuk menjadi pendidikan yang bersih, bermutu, dan terdiri dari orang-orang yang betul-betul berintegritas. Baru setelah itu, pemikiran K13 bisa mulai dijadikan wacana untuk dipikir dilaksanakan. Terlalu jauh untuk memikirkan pelaksanaan K13 dalam waktu 10 tahun ke depan. Problemanya bukan bagaimana para pendidik punya sekedar gelar dan tingkat kesarjanaan yang bermutu (intelektual), tetapi yang paling masalah adalah memiliki kerohanian yang benar, hidup suci dan tidak mau berbuat hal-hal yang berdosa. Itu dasar pembangunan pendidikan yang berkarakter, berintegritas, jujur, dan bersemangat tinggi tidak malas. Tidak ada guru yang memberikan les privat lagi, karena itu akan merusak integritasnya. Semua ilmu diberikan di sekolah. Kalau memberikan mentoring tidak boleh memungut biaya tambahan lagi, karena merupakan tanggung jawabnya untuk membuat murid-muridnya mengerti dan berkarakter.  Nah, disini kita baru bisa berharap disiplin pendidikan bisa dijalankan seperti pada pendidikan-pendidikan swasta yang dikelola di bawah gereja (sekolah Katholik dan Kristen) – tidak semua –,  yang sangat membangun aspek spiritual dan karakter di lini depan. Disiplin sangat penting di dalam membangun kualitas hidup yang mencerminkan dignitas manusia itu sendiri. Ini keadaan dan latar belakang yang anda lihat sebagai kurangnya disiplin dan pendidikan ambisius di Indonesia saat ini.

Menjawab bagaimana menyusun kurikulum yang baik, tentu harus dimulai dari pembenahan hakekat pendidikan. Hal itu kemudian diikuti dengan tujuan pendidikan yang benar pula. Baru dari situ bisa disusun kurikulum yang baik dan benar. Namun, perlu anda pikirkan bahwa kurikulum yang baik harus ditunjang oleh personil yang baik. Pdt. Stephen Tong mengatakan, urutan prioritas pendidikan: Guru, Kurikulum, Siswa, Fasilitas. Pendidikan sekarang ribut dengan fasilitas, karena itu yang paling mudah. Paling sulit adalah Guru. Mencari guru yang memiliki kerohanian baik, hidup suci, integritasnya tinggi, punya dedikasi, lalu karakternya bisa menjadi teladan bagi murid adalah hal yang sangat sulit ketimbang sekedar cari guru yang pandai. Apalagi jika setelah kerohanian dan karakter yang baik, masih dituntut memiliki intelektualitas, pengetahuan, dan ketrampilan mengajar yang baik. Tentu sangat langka. Tetapi inilah yang menjamin kurikulum bisa berjalan. Percuma seperti saat ini menggarap kurikulum yang terus menerus diubah tetapi tidak bisa jalan karena tidak punya kepala sekolah dan guru yang memadai spiritualitas dan karakternya untuk menjalankan. Akibatnya, kurikulum menjadi tumpukan kertas.